Sabtu, 29 Oktober 2011

Ketindihan’ Sering Terjadi pada Siswa dan Pasien Kejiwaan

Minggu, 23 Oktober 2011 - Ketika memeriksa kelompok-kelompok tertentu, 28 persen siswa dilaporkan mengalami kelumpuhan tidur, sementara hampir 32 persen pasien kejiwaan dilaporkan mengalami setidaknya satu episode.

Pernah melihat sesuatu yang menakutkan, misalnya hantu, saat Anda berbaring tidur? Anda sadar, ketakutan, panik, tapi entah kekuatan dari mana, Anda sepenuhnya lumpuh, tidak mampu bergerak, bahkan untuk sekedar mengeluarkan suara. Kita sering menyebutnya “ketindihan” meski sebenarnya tidak ada satupun yang menindih Anda selain dampak dari pikiran Anda sendiri.
Ketindihan atau kelumpuhan tidur (sleep paralysis) merupakan kondisi yang hanya mempengaruhi 8 persen dari populasi umum, didefinisikan sebagai “periode waktu yang terpisah selama gerakan otot tertentu terhambat, namun gerakan mata dan pernapasan tetap utuh,” demikian menurut sebuah studi baru dalam jurnal Sleep Medicine Reviews.
Beberapa orang yang mengalami episode ini secara teratur mungkin berusaha untuk menghindari tidur akibat sensasi yang tidak menyenangkan yang mereka alami. Tapi beberapa lainnya justru menikmati sensasi yang mereka rasakan selama kelumpuhan tidur, catat Brian A. Sharpless, asisten profesor psikologi klinis di Penn State.
“Saya sadar bahwa tidak ada ketersediaan tingkat prevalensi kelumpuhan tidur yang didasarkan pada sampel yang besar dan beragam,” kata Sharpless. “Jadi saya menggabungkan data dari studi saya sebelumnya dengan 34 penelitian lainnya dalam rangka menentukan seberapa umumkah hal itu dalam berbagai kelompok yang berbeda.”
Sharpless melihat pada 35 penelitian yang dipublikasikan dari 50 tahun terakhir, mengumpulkan berbagai sampel-makalah dari beberapa negara yang berbeda, untuk menemukan tingkat kelumpuhan tidur selama seumur hidup. Studi ini mensurvei total 36.533 orang. Secara keseluruhan ia menemukan bahwa sekitar seperlima di antaranya mengalami episode tersebut setidaknya sekali. Frekuensi kelumpuhan tidur berkisar dari satu kali dalam seumur hidup hingga setiap malam.
Ketika memeriksa kelompok-kelompok tertentu, 28 persen siswa dilaporkan mengalami kelumpuhan tidur, sementara hampir 32 persen pasien kejiwaan dilaporkan mengalami setidaknya satu episode. Orang yang memiliki gangguan kepanikan bahkan lebih mungkin untuk mengalami kelumpuhan tidur, dan hampir 35 persen dari mereka yang disurvei melaporkan pernah mengalami episode ini. Kelumpuhan tidur juga tampaknya lebih umum di kalangan non-Kaukasia.
“Kelumpuhan tidur sebaiknya dikaji dengan lebih teratur dan seragam dalam rangka menentukan dampaknya pada fungsi individu dan untuk bisa lebih baik mengartikulasikan hubungannya dengan kondisi kejiwaan dan medis lainnya,” kata Sharpless.
Orang mengalami tiga jenis dasar halusinasi saat kelumpuhan tidur: adanya penyusup, tekanan di dada yang kadang disertai dengan pengalaman kekerasan fisik dan/atau seksual, serta levitasi atau pengalaman di luar tubuh.
Hanya ada sedikit penelitian yang membahas bagaimana mengurangi kelumpuhan tidur atau adakah orang yang mengalami episode tersebut sepanjang hidupnya.
“Saya ingin lebih memahami bagaimana kelumpuhan tidur mempengaruhi seseorang, sebagai lawan untuk sekedar mengetahui bahwa mereka mengalaminya,” kata Sharpless. “Saya ingin melihat bagaimana dampaknya terhadap kehidupan mereka.”
Sharpless berharap untuk menemukan hubungan antara kelumpuhan tidur dengan gangguan stress pasca-traumatik di masa depan.
Jacques P. Barber, profesor psikiatri dari University of Pennsylvania, memberikan kontribusi untuk penelitian ini, yang sebagian didukung oleh Institut Nasional Kesehatan Mental.
Kredit: Penn State
Jurnal: Brian A. Sharplessa, Jacques P. Barber. Lifetime prevalence rates of sleep paralysis: A systematic review. Sleep Medicine Reviews, Volume 15, Issue 5, October 2011, Pages 311-315. DOI: 10.1016/j.smrv.2011.01.007


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indonesian Freebie Web and Graphic Designer Resources