Jumat, 16 September 2011

ANAK JALANAN DI MEDAN ADA YANG BERMAIN MUSIK DENGAN MENGGUNAKAN GERGAJI

G E R G A J I. Siapa yang tak tahu alat ini? Berdasarkan penelusuran di google.com, alat ini ditemukan pada tahun 1777 oleh Samuel Miller di Inggris [ngaco: kira-kira gergaji yang ditemukan Miller dipungut lalu dilaporkan ke polisi tidak ya? Hahaha...] Gergaji adalah tools dengan strip logam tipis dengan gigi di salah satu ujung atau logam tipis disk dengan gigi di pinggiran (sumber:kebebasanex.blogspot.com)

Dengan gergaji manusia menjadi gampang memotong kayu. Ada juga jenis gergaji memotong besi. Hasilnya juga rapi—berbeda kalau dipotong dengan parang atau kapak. Dengan bantuan gergaji—dan tentu saja alat tukang lainnya—manusia telah membuat meja, kursi, lemari, bahkan bangunan.
Tapi gergaji rupanya bisa juga jadi inspirasi berkesenian. Dewi Persik misalnya malah terkenal setelah menemukan goyang gergaji—hahaha, entah bagian mananya goyangan model ini yang mirip dengan gergaji. Di Medan lain lagi ceritanya. Sekelompok orang menjadikan gergaji sebagai alat musik yang apik.
Tak percaya?
Adalah The Bamboes. Mereka adalah komunitas musik sampah—yang terdiri dari anak-anak jalanan kota Medan—yang menggunakan gergaji sebagai [salah satu] alat musik. Mereka menamakan istrumen ini: biola gergaji.
Dinamakan biola karena memang memainkannya digesek seperti biola dengan gesekan biola (bow). Bagaimana memainkannya? Pemain harus duduk, pegangan gergaji dijepit dengan dua paha, tangan kiri memegang ujung gergaji—melengkungkannya, sedangkan tangan kanan memegang bow sambil digesek-gesekan pada bagian tumpul (belakang) gergaji.
Tinggi rendah suara yang dikeluarkan tergantung lengkungan yang dibuat pemain. Suaranya: unik, kadang seperti hembusan angin. Kadang seperti suara burung hantu. Kadang seperti gerombolan lebah yang marah karena sarangnya di lempar tangan jahil. Nadanya mencabik-cabik… [akh, sebaiknya ada dengarkan sendiri memang, karena saya tak pala tahu soal musik, tak bisa mendeskripsikan apa yang saya dengar ...]
Tiap kali tampil, gergaji selalu saja menjadi instrumen yang banyak mendapat perhatian orang. Selain memang unik, suaranya juga membuat orang terpukau. Salah seorang anggota komunitas ini yang terampil memainkan biola gergaji adalah David Kribo, yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang asongan—terkadang mengamen. David merupakan salah seorang anak yang merantau dari kampung dan menjadi anak jalanan dan bergabung dengan komunitas ini lebih dari 10 tahun yang lalu.
Selain gergaji, komunitas ini juga menggunakan alat-alat tak lazim sebagai instrumen musik. Botol vodka berisi air yang dijadikan gending, aqua galon dijadikan jimbe atau perkusi, tutup lemonade yang dipakukan dijadikan kincringan (seperti yang sering dipakai anak jalanan untuk mengamen) dan lain-lain.
Komunitas ini berdiri pertama kali tahun 1995, oleh Sofian Adli—dan beberapa orang kawan lainnya. Gagasannya menjadikan musik sebagai alat (media) pendidikan—karena memang pendidikan formal (sekolah) tak mungkin lagi dijangkau oleh anak-anak jalanan. Dengan bermusik mereka belajar kebersamaan, persahabatan, kemanusiaan, dan juga memberontak pada kehidupan yang kadang memang tidak berpihak.
Dan riuh-rendah biola gergaji yang menyayat hati merupakan salah satu pemberontakan mereka. Sudikah kita mendengarkan? [*]
oleh : Jemie Simatupang
http://hiburan.kompasiana.com/group/musik/2010/06/19/anak-jalanan-medan-bermusik-dengan-gergaji/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indonesian Freebie Web and Graphic Designer Resources